Masalah yang kami jawab
Rantai pasok benih kelapa sawit punya masalah tua: sertifikat kertas mudah dipalsukan, jalur distribusi sulit dilacak, dan petani seringkali tidak punya cara memastikan benih yang mereka beli benar-benar berasal dari sumber resmi.
Sistem kami menggantikan kepercayaan berbasis dokumen dengan kepercayaan berbasis catatan — catatan yang sekali tertulis tidak bisa diubah, dihapus, atau ditimpa oleh pihak mana pun.
Arsitektur dua lapis
1. Hyperledger Fabric — sumber kebenaran
Setiap perpindahan batch (pendaftaran, pengiriman, penerimaan, klaim) dicatat sebagai transaksi blockchain. Setiap transaksi menghasilkan hash yang saling terkait — mengubah satu catatan berarti merusak seluruh rantai, sehingga pemalsuan terdeteksi dengan pasti.
2. PostgreSQL — lapisan pencarian cepat
Data pencarian publik disimpan di lapisan cepat agar verifikasi QR selesai dalam hitungan detik. Integritas tetap dijaga ledger: database cepat hanya cermin, bukan sumber kebenaran.
3. AI penilai kualitas kecambah
Model klasifikasi citra menilai kondisi kecambah sawit dari foto. Hasilnya pendukung keputusan — bukan pengganti pemeriksaan fisik maupun data blockchain.
Siapa melakukan apa
Produsen mendaftarkan lot benih ke sistem, menerbitkan sertifikat digital dan QR untuk setiap kemasan, lalu mengirim benih ke penerima dengan catatan blockchain.
Petani / pembeli — bisa berupa swasta, badan perusahaan negara, akademisi, instansi pemerintah, penangkar, atau petani — memindai QR di kemasan untuk melihat riwayat lengkap benih dari produsen sampai tangan terakhir, dan mengklaim kepemilikan dengan token rahasia.
Regulator memantau seluruh identitas terdaftar dan menerbitkan kredensial institusi baru.
Dari proposal mahasiswa
PalmChain Cert lahir dari proposal Smart Certification: Sistem Sertifikasi Benih Unggul Nasional Berbasis Blockchain dan AI, didanai program PKM-KC 2026 di bawah bimbingan dosen pendamping Abd. Hadi, Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang.
Lihat sistemnya bekerja.
Pindai QR di kemasan benih, atau coba uji kualitas kecambah dengan AI.